Selama ini, ketika nama Rhoma Irama disebut, pikiran kita hampir otomatis melompat ke lagu-lagu besar tentang cinta, kritik sosial, atau dakwah yang lantang. Jarang sekali perhatian diarahkan ke karya-karyanya yang justru lebih sunyi, lebih kecil skalanya, tapi tidak kalah penting. Lagu anak-anak. Padahal di sanalah, sering kali, cara berpikir seorang musikus bisa terlihat paling jujur. Karena menulis untuk anak bukan soal menunjukkan kepintaran, melainkan soal kesediaan menurunkan ego dan masuk ke dunia yang logikanya berbeda.
Menariknya, lagu anak-anak karya Rhoma tidak pernah terasa seperti “pesanan”. Ia tidak terdengar dibuat sekadar untuk memenuhi kategori atau pasar tertentu. Ada benang nilai yang konsisten, tapi disampaikan tanpa suara keras. Tidak menggurui, tidak memaksa. Anak-anak tidak diposisikan sebagai wadah kosong yang harus diisi, melainkan sebagai manusia kecil yang sedang belajar membaca dunia. Dari situlah lagu-lagu ini bekerja, pelan tapi membekas, lewat cerita, humor, kebiasaan, dan harapan yang terasa dekat dengan keseharian.
1. Anak Kera Jenaka
Ini lagu anak yang paling sering disebut ketika membicarakan sisi “anak-anak” Rhoma. Secara permukaan, lagu ini lucu. Tentang anak kera yang tingkahnya menggemaskan. Tapi kalau dipikir lebih jauh, lagu ini mengajarkan satu hal penting tanpa nada menggurui: bahwa kenakalan anak bukan sesuatu yang harus langsung dimarahi, melainkan dipahami. Ada empati di sana. Seolah Rhoma ingin berkata bahwa dunia anak adalah dunia belajar, bukan dunia hukuman.
2. Idih Papa Genit
(dipopulerkan Debby Irama, ciptaan Rhoma Irama)
Judulnya memang terdengar jenaka, bahkan sedikit nakal. Tapi justru di situlah kekuatannya. Lagu ini memperlihatkan sudut pandang anak terhadap orang dewasa, khususnya orang tua. Anak tidak digambarkan pasif, tapi observatif. Ia melihat, menilai, lalu bereaksi dengan cara khas anak-anak. Lagu ini terasa seperti pengingat halus bagi orang tua: anak selalu melihat, meski sering dianggap tidak mengerti apa-apa.
3. Anak yang Malang
(versi anak dari tema sosial)
Meski nadanya sederhana dan bisa dinikmati anak, tema lagu ini sudah mulai menyentuh realitas sosial. Tentang anak yang hidup dalam keterbatasan. Yang menarik, lagu ini tidak menjual kesedihan secara berlebihan. Ia lebih seperti potret. Diam, tapi terasa. Sejak dini, anak diajak mengenal empati, tanpa harus dijejali ceramah.
4. Bismillah
Lagu ini menarik karena memilih titik awal yang sangat mendasar: menyebut nama Tuhan sebelum melakukan apa pun. Untuk ukuran lagu anak, ini bukan pilihan tema yang ringan, tapi justru fundamental. Rhoma seperti ingin menanamkan kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan. Anak tidak diajak memahami teologi yang rumit, hanya diajak membiasakan diri memulai segala sesuatu dengan kesadaran spiritual.
Kalau dipikir-pikir, ini cerdas. Anak-anak belajar lewat pengulangan, bukan ceramah. Dengan musik yang sederhana dan mudah diingat, kata “bismillah” tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat, tapi sebagai bagian alami dari aktivitas sehari-hari. Di sini pendidikan tidak terasa seperti perintah, melainkan rutinitas yang hangat. Lagu ini seolah berkata: sebelum kamu besar dan sibuk, biasakan dulu hatimu untuk ingat dari mana segalanya dimulai.
5. Jadi Dokter
(duet Rhoma Irama dan Debby Irama)
Lagu ini memperlihatkan sisi lain dari pendidikan anak versi Rhoma. Bukan hanya soal moral dan spiritual, tapi juga tentang cita-cita. “Jadi Dokter” tidak berdiri sebagai lagu ambisi, melainkan lagu harapan. Anak diajak membayangkan masa depan, tapi tanpa tekanan berlebihan. Profesi dokter dipilih bukan semata karena status, melainkan karena makna menolong sesama.
Yang membuat lagu ini terasa hidup adalah format duetnya. Suara anak tidak ditempatkan sebagai pelengkap, tapi sebagai pusat cerita. Orang tua hadir sebagai pendamping, bukan penentu mutlak. Ini penting. Lagu ini tidak berkata “kamu harus jadi dokter”, tapi lebih ke “bayangkan kalau kamu bisa berguna bagi orang lain”. Cita-cita di sini adalah sarana pembentukan empati, bukan alat pamer keberhasilan.
Berikut daftar lagu bertemakan anak-anak yang ditulis/dinyanyikan bersama Rhoma Irama:
| Nomor | Judul Lagu | Penyanyi |
| 1 | Aneh Bin Ajaib | Rhoma & Debby |
| 2 | Biar Miskin Asal Sehat | Rhoma & Debby |
| 3 | Bismillah | Rhoma & Debby |
| 4 | Boneka Ngek Ngok | Debby |
| 5 | Cepot dan Copet | Rhoma & Debby |
| 6 | Cok Galigacok | Debby |
| 7 | Idih Papa Genit | Rhoma & Debby |
| 8 | In Dan Dip | Rhoma & Debby |
| 9 | Jadi Dokter | Rhoma & Debby |
| 10 | Nama Saya Debby | Debby |
| 11 | Permintaan | Rhoma & Debby |
| 12 | Sayang Papa Mama | Rhoma & Debby |
| 13 | Sejuta | Rhoma & Debby |
| 14 | Si Odek | Debby |
| 15 | Teka Teki | Rhoma & Debby |
| 16 | Tepuk Nyamuk | Rhoma & Debby |
| 17 | Titah Titah | Debby |
Kalau diperhatikan, lagu anak-anak karya Rhoma Irama tidak pernah benar-benar “kosong nilai”. Tapi nilainya juga tidak dijejalkan. Ia diselipkan lewat humor, cerita, dan sudut pandang anak itu sendiri. Anak tidak diposisikan sebagai objek yang harus diatur, melainkan subjek yang sedang belajar memahami dunia.
Mungkin itulah yang membuat lagu-lagu ini tetap terasa hidup. Karena Rhoma tidak menulis lagu anak dengan mental orang dewasa yang merasa paling tahu, tapi dengan kesadaran bahwa anak punya logikanya sendiri. Dan musik, dalam hal ini, menjadi jembatan yang paling manusiawi.
Handrikelana/suarasoneta


⭐⭐⭐⭐⭐