Dari sekian banyak lagu yang dinyanyikan Rhoma, lagu Bisnis ini termasuk lagu yang unik. Lagu ini diciptakan Romli dan direkam dalam album 10 Lagu Terbaik Lomba Cipta Lagu Dangdut Se Jabotabek. Pada kesempatan ini, kami akan mencoba menafsirkan “Bisnis” sebagai cermin sosial yang dipoles dengan nada santai, namun memantulkan bayangan manusia apa adanya. Lagu ini terasa seperti obrolan di warung kopi, tetapi isinya menohok pelan.
Pertama, pembukaan “dengarlah kawan-kawan, aku punya cerita” menempatkan lagu ini sebagai kisah kolektif, bukan ceramah dari atas mimbar. Rhoma berbicara sebagai sesama manusia dewasa yang mengamati ritme hidup: hari bergulir ke minggu, minggu menua menjadi bulan. Ini gambaran waktu yang berjalan tanpa henti, sementara manusia sibuk mengisi jadwalnya masing-masing.
Kedua, penggalan tentang berbagai aktivitas manusia memperlihatkan keragaman peran sosial. Ada yang bekerja rutin, ada yang tampak santai, ada pula yang sering bepergian. Namun titik kritisnya muncul ketika hampir semua perjalanan itu diberi satu label seragam: bisnis. Kata ini menjadi tameng universal, jawaban praktis yang terdengar sahih tanpa perlu penjelasan lebih jauh.
Ketiga, kritik utama lagu ini terletak pada kalimat “tapi ternyata kepergian itu tiada tentu arah dan tujuan”. Rhoma sedang menyingkap ketidaksinkronan antara ucapan dan kenyataan. “Bisnis” diucapkan, tetapi tidak selalu mencerminkan tanggung jawab, kejelasan, atau nilai. Ia berubah menjadi kata serbaguna yang menutupi ketidakjujuran, kebingungan hidup, bahkan kelalaian terhadap kewajiban.
Keempat, peringatan “mengucap kata anda harus hati-hati” memberi bobot moral yang kuat. Kata, dalam tafsir ini, bukan sekadar bunyi, melainkan janji dan identitas. Menyebut sesuatu sebagai bisnis berarti mengklaim keseriusan, tujuan, dan etika. Ketika kata itu disalahgunakan, yang rusak bukan hanya kepercayaan orang lain, tetapi juga integritas diri sendiri.
Kelima, pengakuan bahwa “kata itu mengandung banyak arti” memperlihatkan kecerdasan sosial Rhoma. Ia tidak menolak bisnis sebagai aktivitas mulia, melainkan menolak pemiskinan makna. Bisnis seharusnya mengandung perencanaan, tanggung jawab, dan kejujuran, bukan sekadar alasan untuk pergi tanpa arah.
Kesimpulannya, “Bisnis” adalah lagu tentang kejujuran dalam menamai hidup. Ia mengingatkan bahwa kedewasaan bukan diukur dari kesibukan atau istilah yang digunakan, melainkan dari kesesuaian antara kata, niat, dan perbuatan. Sebuah kritik yang lembut, namun mengendap lama, seperti gema yang tak segera hilang.
Penafsir: Handrikelana/Suarasoneta

