Siapa yang berani mengatakan bahwa Rhoma Irama dan Soneta lah penyanyi dan group musik yang paling liat bertahan tanpa jeda sepanjang 55 tahun, mungkin di dunia kah. Mungkin saja iya. Kalau tidak, penyanyi dan group musik manakah yang menyaingi daya tahan karirnya. Tapi Indonesia punya, tapi Indonesia kadang malu-malu mengakuinya.
Hari ini selebrasi 55 tahun Soneta dirayakan di Jakarta International Veledrom, Rawamangun, Jakarta Timur. Mengapa tidak di Stadion Gelora Bung Karno, katanya Raja Dangdut Rhoma Irama memiliki penggemar paling banyak di Indonesia, menurut survey 10 persen dari jumlah penduduk. Mirip partai menengah, yang pasti bisa diajak koalisi oleh pemerintah.
Panitia justru rasanya tepat memilih stadion itu. Ini bisnis pertunjukan, bukan sekedar merayakan kebesaran seorang a living legend. Ada hitungan ekonominya. Pangsa pasar penggemar Rhoma Irama dan Soneta memang besar dan ada di semua segmen, kaya-miskin, elit-menengah, intelektual-awam dan Gen Z- Babby Boomer. Itulah hasil revolusi musiknya, yang sedari dangdut dikatai sebagai kampungan dan musik “tai anjing” sekarang sudah jauh naik kelas. Hotel berbintang, gedung mewah, asia dan amerika bahkan sudah digoyang oleh pria yang pernah dijuluki “The South-East Asia Superstar” itu.
Namun itu bukanlah jaminan orang menonton konser. Terlalu banyak variable yang dapat diungkit. Harus jujur mengakui dan ini sangatlah alami bahwa era penggemar Rhoma Irama dan Soneta menyaksikan konser musik secara langsung (live) sudah jauh berkurang. Kita tidak sedang membahas kondisi ekonomi belum begitu baik. Bisa dikatakan usia penggemar Rhoma Irama dan Soneta secara mayoritas kini berada di kisaran usia 50 sd 80 tahun. Mereka adalah penikmat musik Soneta sejak tahun 70-an. Secara fisik tak sekuat dulu, untuk sekedar berjingkrak joget.
Berbeda pada tahun 80 sd 90 an, puluhan ribu massa selalu menyemut bahkan beberapa konser menyentuh angka ratusan ribu penonton, dan ketika bubar konser ribuan orang tersebut antri berjalan kaki menuju gerbang untuk keluar pulang. Kita rasakan itu di Ancol, Taman Mini Indonesia Indah dan Monas serta banyak stadion di daerah. Apa karena itu gratis atau berbayar murah, mungkin saja. Itulah karakter musik dangdut, yang sebagian besar penggemarnya memang datang dari masyarakat bawah. Mereka rakyat Indonesia, yang sebagian ekonominya masih di bawah.

Rhoma juga menyadari jika musiknya juga disukai para generasi baru, ada di paruh usia 15 hingga 30 tahun. Lihat para penyanyi yang mengikuti kontes di televisi itu, mereka rata-rata remaja generasi Z, yang lahir dari orang tua atau bahkan kakek yang selalu menyetel lagu-lagu Soneta di rumahnya sejak mereka kecil. Telinga mereka sudah akrab dengan suara gendang dan suling. Di sebuah acara televisi swasta yang merayakan ulang tahun Rhoma Irama ke-79, para bintang dangdut remaja itu mengatakan sangat mengagumi Rhoma Irama dan mengaku terpapar dengan lagu-lagu Soneta sejak kecil. Ini menandakan Rhoma dan Soneta bertahan karirnya dari era manual ke digital/internet.
Sejalan dengan itu para promotor musik di sepuluh tahun belakangan mulai melirik Rhoma dan Soneta untuk tampil di acara konser yang lebih “bergengsi”. Dan pastinya relatif berkelas, karena berbayar relatif tinggi dibandingkan konser-konser Soneta sebelumnya. Di konser Syncronize 2016 misalnya yang menyajikan seluruh genre musik, Rhoma menemukan penggemar “baru”, mereka yang rata-rata berusia muda relatif baru pertama kali menyaksikan langsung konser Rhoma Irama dan Soneta, dan tentunya terpukau. Konser Syncronize 2016 menurut hemat penulis salah satu konser terbaik Rhoma Irama dan Soneta. Selanjutnya, diikuti event-event besar musik lainnya, seperti acara bertajuk “Berdendang Bergoyang” dan “Pestapora”. Rhoma menghibur penggemar barunya dari kalangan generasi Z dan milineal.
Artinya potensi menggarap konser Soneta berbayar tinggi ini sebenarnya sudah bisa dilakukan sejak Rhoma berusia muda. Tapi waktu berbicara lain. Rhoma bertahan di karakter konsernya yang non eksklusif. Seperti acara partai, acara ulang tahun pemerintah daerah, acara pernikahan, acara nada dan dakwah, acara bersponsor swasta dan konser yang disiarkan langsung televisi. Massa penggemar fanatiknya sejak dulu tidak pernah diuji untuk sesekali membayar konsernya dengan harga yang fantastis.
Untuk itu, konser selebrasi 55 tahun Soneta, 13 Desember 2025 malam di Veledrom, Rawamangun, Jakarta Timur adalah kesempatan untuk para penggemar menunjukan kelasnya.
Penulis: Soleh Mohamad

