Ada perasaan ganjil sekaligus hangat ketika melihat Rhoma Irama berdiri satu panggung dengan JKT48. Ganjil karena jarak generasinya jauh, hangat karena yang terpancar justru rasa saling menghormati. Kolaborasi ini, bagi sebagian orang, mungkin hanya tontonan hiburan televisi. Tapi kalau diamati lebih dalam, ada cerita yang lebih panjang dari sekadar duet musik.
Rhoma Irama bukan sekadar penyanyi. Ia adalah ingatan kolektif. Lagu-lagunya hidup di hajatan, di radio desa, di kaset-kaset yang diputar ulang sampai pita kusut. Ia membawa dangdut sebagai suara rakyat, penuh pesan moral, kritik sosial, dan religiositas yang lugas. Sementara JKT48 adalah wajah lain Indonesia hari ini: cepat, visual, enerjik, dan sangat akrab dengan generasi muda yang tumbuh bersama media sosial dan budaya pop global.
Ketika dua dunia ini bertemu, yang terjadi bukan benturan, melainkan percakapan.
Di atas panggung, Rhoma Irama tidak kehilangan wibawanya. Ia tetap dengan kharisma khasnya, suara yang terlatih puluhan tahun, dan aura seorang maestro. JKT48 pun tidak larut menjadi sekadar figuran. Mereka hadir dengan identitasnya sendiri, dengan koreografi rapi dan semangat anak muda yang terasa jujur. Yang menarik, tidak ada upaya saling menutupi. Tidak ada yang dipaksa terlihat “lebih muda” atau “lebih klasik”. Masing-masing berdiri apa adanya.
Kolaborasi ini penting justru karena ia tidak mencoba menjadi sempurna. Ada bagian yang terasa canggung, ada momen yang terasa kontras. Tapi di situlah nilai manusianya. Musik, pada akhirnya, bukan soal keseragaman, melainkan soal keberanian membuka ruang temu.
Bagi generasi muda penonton JKT48, kehadiran Rhoma Irama mungkin menjadi pintu pertama untuk mengenal dangdut bukan sebagai musik “orang tua”, melainkan sebagai tradisi yang hidup. Sebaliknya, bagi penggemar lama Rhoma Irama, JKT48 bisa dilihat bukan sekadar hiruk-pikuk idol, tapi simbol zaman yang terus bergerak dan tidak bisa diabaikan.
Lebih dari soal genre, kolaborasi ini memberi pesan yang jarang diucapkan secara terang: bahwa musik Indonesia tidak harus terkotak-kotak. Tidak perlu selalu membenturkan yang lama dengan yang baru. Ada cara lain, yaitu saling mendengar.
Dalam industri hiburan yang sering terjebak pada tren instan dan angka viral, pertemuan Rhoma Irama dan JKT48 terasa seperti jeda sejenak untuk bernapas. Mengingatkan bahwa relevansi tidak selalu datang dari mengikuti zaman, tapi dari kesediaan berdialog dengan zaman itu sendiri.
Kolaborasi ini mungkin tidak akan mengubah arah musik Indonesia secara drastis. Tapi ia meninggalkan jejak kecil yang penting: bahwa lintas generasi bukan ancaman, melainkan kesempatan. Dan di tengah panggung gemerlap itu, kita melihat satu hal yang sering terlupakan: musik bisa menyatukan tanpa harus menyeragamkan.
Itu sebabnya, kolaborasi ini layak dikenang bukan karena sensasinya, melainkan karena maknanya.
Handrikelana/suarasoneta

