Kopdarnas FORSA IV Tahun 2026 di Ragunan

Ketika Persaudaraan Rhomania Menjadi Rumah Besar Pecinta Soneta

Jakarta, Suarasoneta
Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, pada 25 hingga 26 April 2026 lalu, bukan sekadar lokasi pertemuan komunitas. Selama dua hari itu, kawasan yang biasanya dipenuhi aktivitas wisata keluarga berubah menjadi lautan manusia dengan satu identitas yang sama: Rhomania.

Ribuan anggota Forum Silaturahmi Soneta Fans Club Indonesia (FORSA) dari berbagai daerah di Tanah Air hadir dalam agenda besar Kopdar Nasional (Kopdarnas) FORSA ke-IV Tahun 2026. Mereka datang dari berbagai chapter dan penjuru Indonesia, membawa atribut kebanggaan daerah masing-masing, bendera chapter, spanduk komunitas, hingga semangat persaudaraan yang terasa begitu hidup sejak pertama memasuki area kegiatan.

Dari gerbang masuk Buperta Ragunan, suasana sudah terasa berbeda. Kaos-kaos bertuliskan FORSA, Soneta, dan Rhomania mendominasi area perkemahan. Lagu-lagu karya sang Raja Dangdut, Rhoma Irama, terdengar mengalun dari pengeras suara di berbagai sudut lokasi. Aroma kopi, suara tawa, dan obrolan hangat antarsesama anggota komunitas menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana FORSA telah berkembang bukan hanya sebagai fanbase, tetapi sebagai keluarga besar lintas daerah dan lintas generasi.

Dari Berbagai Daerah, Berkumpul Dalam Satu Irama

Kopdarnas FORSA IV tahun ini menjadi salah satu pertemuan terbesar sejak organisasi tersebut berdiri. Peserta datang dari Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga beberapa chapter luar pulau lainnya. Banyak peserta bahkan menempuh perjalanan darat berjam-jam demi dapat hadir di Ragunan.

Beberapa chapter datang menggunakan bus rombongan, sementara lainnya memilih perjalanan pribadi demi memastikan seluruh anggota dapat ikut merasakan suasana nasional tersebut. Tidak sedikit pula anggota yang rela menabung sejak jauh hari untuk biaya perjalanan menuju Jakarta.

Semangat kebersamaan itu terlihat jelas saat para peserta mulai mendirikan tenda di area perkemahan. Ada yang baru pertama kali bertemu secara langsung setelah selama ini hanya berinteraksi melalui media sosial dan grup komunikasi chapter. Namun suasananya terasa seperti reuni keluarga lama.

Saling menyapa dengan panggilan “saudara FORSA”, bertukar cerita perjalanan, hingga bernyanyi bersama lagu-lagu Soneta menjadi pemandangan yang hampir tak berhenti selama acara berlangsung.

Bukan Sekadar Penggemar Musik

Di tengah perkembangan budaya digital dan cepatnya perubahan tren hiburan, FORSA justru menunjukkan sesuatu yang unik. Komunitas ini tidak berdiri hanya karena ketertarikan terhadap musik dangdut semata, tetapi juga karena nilai-nilai yang terkandung dalam karya-karya Rhoma Irama.

Banyak anggota FORSA mengaku mengenal pesan moral, dakwah, kritik sosial, hingga nilai persaudaraan melalui lagu-lagu Soneta. Karena itulah, FORSA berkembang menjadi komunitas yang memiliki ikatan emosional kuat antaranggota.

Hal tersebut juga terasa dalam Kopdarnas kali ini. Selain menjadi ajang silaturahmi nasional, kegiatan ini dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat solidaritas organisasi. Para pengurus chapter berdiskusi mengenai pengembangan komunitas, regenerasi anggota muda, penguatan media sosial FORSA, hingga rencana kegiatan sosial di berbagai daerah.

Nuansa religius dan kekeluargaan juga terasa melalui agenda halal bihalal nasional yang menjadi bagian penting dalam rangkaian acara. Dalam sesi tersebut, seluruh peserta bersama-sama mempererat tali silaturahmi dan saling memaafkan dalam suasana penuh kehangatan.

FORSA Idol dan Semangat Kreativitas Rhomania

Salah satu agenda yang paling menarik perhatian peserta adalah Grand Final FORSA Idol 2026. Kompetisi ini menjadi wadah bagi anggota FORSA dari berbagai daerah untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam membawakan lagu-lagu Soneta dan karya Rhoma Irama lainnya.

Sejak sore hingga malam hari, panggung utama dipenuhi antusiasme penonton. Sorak dukungan terdengar setiap kali finalis tampil membawakan lagu-lagu legendaris dengan karakter dan interpretasi masing-masing.

Ajang ini bukan hanya tentang kompetisi vokal, tetapi juga menjadi simbol bahwa regenerasi Rhomania terus berjalan. Generasi muda FORSA mulai menunjukkan perannya dalam menjaga eksistensi karya-karya Soneta di tengah perubahan zaman dan dominasi musik digital modern.

Kehadiran Rhoma Irama dan Soneta Group

Puncak emosional Kopdarnas FORSA IV terjadi ketika Rhoma Irama bersama Soneta Group hadir di tengah ribuan anggota FORSA.

Sejak sore, peserta sudah memadati area depan panggung utama. Banyak yang mengabadikan momen dengan telepon genggam, sementara sebagian lainnya tampak tak sabar menyambut sosok yang selama puluhan tahun menjadi inspirasi mereka.

Ketika Rhoma Irama naik ke atas panggung, riuh tepuk tangan dan yel-yel FORSA langsung menggema memenuhi kawasan bumi perkemahan. Suasana berubah haru ketika lagu-lagu legendaris mulai dimainkan. Sebagian peserta ikut bernyanyi bersama, sebagian lainnya tampak larut dalam nostalgia perjalanan panjang musik Soneta yang telah menemani kehidupan mereka selama bertahun-tahun.

Bagi sebagian anggota FORSA, bertemu langsung dengan Rhoma Irama bukan hanya tentang melihat seorang musisi besar. Ada rasa hormat terhadap sosok yang dianggap telah memberi pengaruh besar dalam perjalanan hidup mereka melalui pesan-pesan moral di setiap lagu.

Ragunan Menjadi Kampung Besar Rhomania

Salah satu hal yang paling membekas dari Kopdarnas IV adalah suasana kebersamaan di area perkemahan. Saat malam tiba, kehidupan komunitas justru semakin terasa hangat.

Di beberapa sudut tenda, terdengar petikan gitar akustik dan nyanyian lagu-lagu Soneta yang dibawakan secara santai. Ada yang berbagi kopi, berbincang soal perjalanan chapter masing-masing, hingga mengenang konser-konser Soneta di masa lalu.

Pemandangan tersebut menunjukkan bahwa FORSA bukan sekadar organisasi formal komunitas penggemar. Ia telah berkembang menjadi ruang sosial yang mempertemukan banyak orang dari latar belakang berbeda dalam satu semangat persaudaraan.

Tidak ada sekat usia dalam komunitas ini. Anak muda, orang tua, pekerja, pedagang, pegawai, hingga pelaku seni bercampur menjadi satu dalam suasana yang cair dan penuh penghormatan.

Menjaga Api Soneta Tetap Menyala

Kopdarnas FORSA IV Tahun 2026 menjadi bukti bahwa semangat Rhomania belum pernah padam. Di tengah gempuran tren musik modern dan perubahan budaya populer, karya-karya Rhoma Irama tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia.

FORSA menjadi salah satu garda yang menjaga warisan tersebut tetap hidup. Melalui komunitas ini, lagu-lagu Soneta terus dikenalkan kepada generasi baru, bukan hanya sebagai musik hiburan, tetapi juga sebagai media dakwah, kritik sosial, dan pendidikan moral.

Kesuksesan Kopdarnas IV di Ragunan sekaligus menjadi penanda bahwa FORSA kini telah tumbuh menjadi komunitas besar dengan jaringan nasional yang solid. Bukan hanya kuat dalam jumlah anggota, tetapi juga dalam nilai persaudaraan yang terus dijaga.

Dari Ragunan, semangat itu kembali dipancarkan. Di bawah langit malam bumi perkemahan, lagu-lagu Soneta terus berkumandang, seakan mengingatkan bahwa musik yang lahir dari hati rakyat akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup.

Dan selama masih ada Rhomania yang menjaga nyala itu, irama Soneta tampaknya akan terus bergema melintasi zaman.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *