Konser Delapan Dekade Di Cirebon

Cirebon seakan sedang menunggu sesuatu yang sudah lama ia kenal, namun selalu dirindukan. Di kota yang terbiasa mendengar lantunan doa dari surau-surau kecil dan hiruk pikuk pasar rakyat, kabar tentang rencana hadirnya Soneta Group terasa seperti angin malam yang membawa kenangan. Ini bukan sekadar cerita tentang sebuah konser, melainkan tentang perjumpaan. Perjumpaan antara musik dan ingatan, antara nada dan keyakinan. Ketika Soneta disebut, yang terlintas bukan hanya panggung dan lampu sorot, tetapi jejak panjang sebuah perjalanan musikal yang pernah, dan masih, menemani hidup banyak orang.

Nama Rhoma Irama tak bisa dilepaskan dari perjalanan itu. Bagi sebagian orang, ia adalah suara masa muda. Bagi yang lain, ia adalah guru yang berbicara lewat lagu. Bersama Soneta Group, Rhoma membangun dangdut dengan cara yang berbeda. Musiknya keras, tegas, kadang menggugat, tapi selalu punya arah. Lirik-liriknya tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari kegelisahan sosial, dari keresahan iman, dari keinginan untuk mengingatkan tanpa menggurui. Maka tak heran jika Soneta bertahan lintas generasi. Lagu-lagunya tidak cepat usang karena pesan di dalamnya terus menemukan relevansi baru.

Konser Sabtu, 7 Februari 2026, yang pintu pagelaran dibuka mulai pukul 15.00 WIB, bukan hanya tentang membawakan lagu-lagu lama yang sudah akrab di telinga. Ia lebih menyerupai sebuah perjalanan bersama. Penonton diajak masuk ke ruang perenungan, lalu ditarik kembali ke euforia, kemudian ditenangkan lagi oleh pesan-pesan yang sederhana namun mengena. Ada suasana religius yang tidak dibuat-buat, ada semangat dakwah yang tidak kaku. Di tengah gemuruh musik, selalu ada jeda untuk berpikir. Di antara tepuk tangan, ada ruang untuk mengingat. Inilah ciri khas Soneta, menghadirkan hiburan tanpa kehilangan tanggung jawab moralnya sebagai musik rakyat.

Bagi Suarasoneta, rencana konser ini adalah denyut yang sejalan dengan napas yang selama ini dijaga. Suarasoneta melihat Soneta bukan hanya sebagai grup musik, tetapi sebagai gerakan budaya yang hidup. Ketika Soneta tampil di Cirebon, yang hadir bukan sekadar penonton, melainkan jamaah rasa. Orang-orang yang datang dengan latar belakang berbeda, usia berbeda, tapi disatukan oleh satu hal: keyakinan bahwa musik bisa menjadi jalan kebaikan. Dan saat lampu panggung menyala pada sore itu dan lantunan pertama menggema dari panggung Stadion Ranggajati, besar harapannya suara Soneta akan tetap menyala di hati mereka yang pulang — menjadi bekal yang tak lekang oleh waktu.

Handrikelana/suarasoneta

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *