135 Juta dan Relevansinya dengan Indonesia Hari Ini

Judul lagu itu menyebut angka yang hari ini sudah tidak berlaku lagi. Penduduk Indonesia sekarang jauh lebih banyak dari seratus tiga puluh lima juta. Tapi justru di situlah letak relevansinya. Lagu “135 Juta” bukan tentang angka, melainkan tentang cara kita memandang sesama. Dan soal itu, Indonesia hari ini masih bergulat dengan persoalan yang sama.

Ketika Rhoma Irama menulis lagu ini, ia berbicara pada zamannya. Tapi isi pesannya terasa seperti sedang ditujukan ke hari ini. Media sosial penuh dengan ejekan berbasis identitas. Perbedaan suku, agama, pandangan politik, bahkan pilihan gaya hidup, sering kali berubah menjadi bahan olok-olok. Padahal yang diingatkan Rhoma sejak lama justru hal paling dasar: jangan saling menghina.

Indonesia hari ini mungkin terlihat lebih terbuka, lebih modern, lebih terhubung. Tapi di saat yang sama, kita juga lebih mudah terpecah. Dulu, perbedaan terasa jauh. Sekarang, perbedaan itu muncul di layar ponsel setiap hari. Lagu “135 Juta” seperti mengingatkan bahwa masalahnya bukan pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada cara kita menyikapinya.

Kalimat “karena kita satu bangsa dan satu bahasa Indonesia” terasa sederhana, bahkan klise. Tapi justru kalimat seperti itulah yang sering terlupakan. Dalam banyak perdebatan, identitas sering dipakai sebagai senjata, bukan sebagai kenyataan yang harus diterima. Lagu ini tidak mengajak orang menang debat, tapi mengajak orang menahan diri.

Ketika Rhoma menyebut Bhinneka Tunggal Ika, itu terasa semakin relevan hari ini. Semboyan itu sering diucapkan, tapi jarang direnungkan. Bermacam-macam aliran, satu tujuan. Kalimat ini seolah bertanya balik: apakah kita masih sepakat soal tujuan itu, atau justru sibuk mempertahankan perbedaan masing-masing tanpa mau mencari titik temu.

Relevansi “135 Juta” hari ini juga terletak pada caranya menyampaikan pesan. Tidak keras, tidak menyudutkan, tidak memihak. Di tengah iklim sosial yang serba tegang dan cepat tersulut, pendekatan seperti ini justru terasa langka. Lagu ini tidak menyuruh orang memilih kubu yang benar, tetapi mengingatkan agar tidak lupa bahwa kita hidup bersama.

Dalam konteks Indonesia sekarang, “135 Juta” bisa dibaca ulang sebagai cermin. Cermin tentang bagaimana kita memperlakukan perbedaan. Apakah kita menjadikannya kekayaan, atau malah alasan untuk saling menjauh. Lagu ini tidak menawarkan solusi instan, tapi menawarkan sikap dasar: saling menghormati, sebelum berbicara lebih jauh.

Mungkin itulah sebabnya lagu ini tetap layak dibicarakan. Bukan karena melodinya, bukan karena popularitasnya, tapi karena isinya masih menyentuh persoalan yang belum selesai. Selama Indonesia masih berdiri di atas keberagaman, pesan dalam “135 Juta” akan terus relevan. Dan tugas kita hari ini bukan sekadar mendengarnya, tapi memikirkan ulang, apakah kita masih setia pada kesepakatan awal sebagai sebuah bangsa.

Lagu “135 Juta” mengingatkan kita pada satu hal yang sering luput: Indonesia tidak pernah dibangun di atas keseragaman. Sejak awal, negeri ini berdiri di atas perbedaan yang disepakati untuk dirawat bersama. Persoalannya bukan pada banyaknya jumlah, suku, atau aliran, tetapi pada sejauh mana kita masih mau menahan diri dan saling menghormati.

Di tengah hiruk-pikuk zaman, ketika suara paling keras sering dianggap paling benar, lagu ini justru datang dengan nada pelan. Tidak memaksa, tidak menghakimi. Ia hanya mengajak kita mengingat ulang kesepakatan dasar sebagai bangsa. Bahwa sebelum menjadi apa pun, kita adalah sesama warga Indonesia yang hidup berdampingan.

Suarasoneta memandang “135 Juta” bukan sebagai lagu masa lalu, tetapi sebagai pengingat yang terus relevan. Angkanya boleh berubah, zaman boleh berganti, tetapi tantangannya tetap sama. Selama kita masih mudah menghina, mudah merendahkan, dan enggan mendengar satu sama lain, pesan dalam lagu ini belum benar-benar kita jalani.

Mungkin yang paling penting dari lagu ini adalah keberaniannya untuk tetap sederhana. Di saat banyak orang berlomba-lomba menunjukkan perbedaan, “135 Juta” justru mengajak kita kembali ke titik awal. Titik di mana persatuan bukan slogan, melainkan sikap. Dan di sanalah, sesungguhnya, Indonesia diuji.

Handrikelana/suarasoneta

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *