Rhoma Irama dan Musik Pop

Sebelum publik mengenalnya sebagai simbol dangdut dengan gitar yang menyala dan lirik yang menggugah kesadaran, Rhoma Irama pernah menempuh jalan yang lebih sunyi dan jarang dibicarakan, musik pop. Ini bukan fase singkat yang kebetulan, melainkan periode penting pembentukan musikal. Di akhir 1960-an, ketika musik pop Indonesia sedang tumbuh dengan pengaruh kuat Barat, Rhoma hadir sebagai anak muda dengan gitar listrik, suara bariton yang bersih, dan hasrat besar untuk menjadi musisi sejati. Ia belum membawa misi sosial atau dakwah. Yang ia bawa adalah rasa, patah hati, dan semangat zaman.

Pada masa itu, Rhoma bergabung dengan sebuah band bernama Gayhand. Bersama band inilah ia banyak membawakan lagu-lagu pop dan rock Barat di panggung-panggung hiburan Jakarta. Repertoarnya mencakup lagu-lagu populer seperti House of the Rising Sun dan Unchained Melody, lagu-lagu yang menuntut ketepatan harmoni dan emosi vokal. Di Gayhand, Rhoma dikenal sebagai gitaris sekaligus vokalis, menyerap disiplin band modern: aransemen rapi, permainan kolektif, dan kesadaran panggung. Pengalaman ini kelak terasa jelas ketika ia memimpin Soneta dengan format band yang solid, bukan sekadar orkes pengiring penyanyi.

Tak hanya berhenti di panggung, Rhoma juga masuk dapur rekaman. Ia merekam sejumlah lagu pop Indonesia yang pada masanya beredar sebagai piringan hitam. Judul-judul seperti Djangan Kau Marah, Adikku Sayang, Hari Ini Tiada Cinta, Cinta Dalam HatidanPantai Pulau Bali menunjukkan warna pop melankolis yang kental. Lagu-lagu ini dibawakan dengan pendekatan lembut, tempo sedang, dan lirik romantik tanpa nada menggurui. Beberapa di antaranya direkam di bawah label Metropolitan Studio (yang kemudian berubah menjadi Musica Studio) salah satu label besar Indonesia saat itu, yang juga menaungi banyak musisi pop dan keroncong. Dalam konteks ini, Rhoma berdiri sejajar dengan penyanyi pop sezamannya, bukan sebagai ikon dangdut.

Dalam fase pop ini pula Rhoma sempat berduet dan tampil bersama sejumlah penyanyi perempuan era tersebut. Penyanyi wanita seperti Inneke Kusumawati dan Lily Djunaedi adalah penyanyi yang tercatat pernah berduet dengan Rhoma kala itu. Duet-duet ini umumnya bersifat rekaman ringan atau pertunjukan panggung, dengan tema cinta dan perpisahan yang sederhana. Belum ada figur “Raja Dangdut”, belum ada Soneta dengan slogan moral. Yang ada hanyalah seorang musisi muda yang belajar membaca selera publik dan batas kemampuannya sendiri.

Beberapa album rekaman Rhoma saat aktif di jalur pop, antara lain: Rekaman bersama Zaenal Combo Band: Di Rumah Sadja, Sip-Sipan Bedue, Djangan Dekati Aku, Biarkan Aku Pergi, bersama Band The Galaxies:  Aneka Lagu-Lagu Pop Volume 1, Djangan Kau Marah dan Album Pop Remaja Dan Bulan bersama Naviri Band.

Ketika akhirnya Rhoma memilih dangdut sebagai jalan utama, keputusan itu bukanlah lompatan buta. Ia sudah mengantongi bekal pop, pengalaman band, disiplin rekaman, dan pemahaman industri musik. Dangdut baginya bukan sekadar genre, melainkan medium yang paling jujur untuk menyampaikan gagasan. Maka, musik pop dalam perjalanan Rhoma Irama bukanlah catatan kaki. Ia adalah pondasi. Sebuah ruang belajar yang sunyi, tapi menentukan, sebelum suara gitar Soneta menggema ke seluruh negeri.

 Handrikelana/suarasoneta

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *