38 Tahun The Sound Of Moeslem, Musik Lintas Generasi

38 Tahun The Sound Of Moeslem, Musik Lintas Generasi


oleh : SONIA (SONETA MANIA)

“ Sulit mencapai kejayaan dalam hidup ini dan bahkan untuk mempertahankannya lebih sulit lagi…..”.

Itulah sebait syair yang dituliskan Rhoma Irama dalam lagu Badai Fitnah yang termuat dalam album Soundtrack Film Badai Diawal Bahagia produksi Naviri Record tahun 1981/1982.Syair itu sedikitnya menggambarkan kerja keras yang telah dilakukan oleh Rhoma Irama dan SONETA Group dalam meraih prestasi tertinggi dalam industri musik di tanah air hingga ke manca negara.Perjuangan yang tidak kenal menyerah, memeras tenaga, menguras fikiran, berurai airmata bahkan sampai meneteskan darah. Komitmen untuk mengangkat harkat dan martabat musik Melayu yang pada saat-saat awal tahun 70-an sangat terpinggirkan dan dilecehkan menjadi cambuk bagi Rhoma Irama dan SONETA untuk membuktikan diri bahwa musik melayu (dangdut) bisa berdiri sejajar dengan musik-musik lainnya.

Stigma negative yang telah melekat pada musik dangdut yang dikonotasikan hiburan bagi kaum pinggiran dan terbelakang serta mengumbar selera rendah bukanlah suatu hal yang mudah untuk patahkan.Butuh waktu bertahun-tahun bagi Rhoma Irama dan SONETA untuk membuka mata dan telinga para pendengar musik untuk menolehkan pandangan dan pendengaran mereka pada musik dangdut itu sendiri.

Perjuangan tanpa kenal lelah itu membuahkan hasil yang sangat gilang-gemilang.Rhoma Irama dan SONETA Group sampai saat ini adalah satu-satunya group musik di Indonesia bahkan mungkin didunia yang paling lama eksis di industri musik. Eksis dalam arti tetap mengeluarkan single atau album baru secara berkala, tetap melakukan pertunjukan di panggung terbuka maupun studio tv, tetap memiliki bassis fans club dan tetap dipenuhi ribuan penonton disetiap panggung pertunjukannya. Dalam kurun waktu tahun 1970an hingga tahun 2000-an, ratusan penyanyi dan grup dari berbagai aliran musik bermunculan saling mencuri perhatian masyarakat.

Era 70-an kita mengenal Koes Plus, Bimbo, Eddy Silitonga, Benyamin S, Muchsin-Titiek Sandhora, A. Rafiq, Godbless, SAS, Ucok Aka Harahap, Giant Step, Chrisye, Rollies dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di era 80-an nama-nama tersebut banyak yang tenggelam dengan munculnya talenta-talenta baru, dibarisan pop muncul penyanyi-penyanyi wanita dibawah panji Judhi Kristianto dengan JK Record yang mendominasi musik pop Indonesia, Nicky Astria, Nike Ardila, Iwan Fals, Jamal Mirdad, Kla Project, Fariz RM, dan puluhan grup musik pop maupun rock yang muncul secara kontinyu di stasiun TVRI yang saat itu merupakan satu-satunya media televise yan ada di Indonesia. Penampilan mereka ditampung dalam acara paket Aneka Ria Safari yang ditangani oleh Eddy Sud. Dibarisan penyanyi dangdut bermunculan Itje Trisnawati, plagiat-plagiat Rhoma Irama dan Soneta seperti Mara Karma dan Kharisma, Nano Romanza dan Rollista, Uci Marshal dan Sanita, Iin Batara, dan lain-lain. Kemana Rhoma Irama saat itu?Saat itu Rhoma dan SONETA tengah mengalami pencekalan akibat dukungannya pada PPP dalam Pemilu 1977. Rezim berkuasa saat itu begitu murka akan keberanian Rhoma Irama dan Soneta yang secara terang-terangan memihak kepada PPP yang saat itu adalah lawan politik terkuat dari Golkar yang mengendalikan pemerintahan. Dalam cengkeraman rezim orde baru tersebut Rhoma Irama dan Soneta bukanlah semakin surut tetapi malah semakin mengukuhkan jatidiri musik Soneta dengan menambah instrument musik dan merombak total musik sonata menjadi lebih elegan engan Brass Section dan timpani.

Tahun 1988 Rhoma Irama dan Soneta diperkenankan kembali untuk tampil di TVRI lewat acara Kamera Ria dengan mengumandangkan lagu Judi. Bebaskah Rhoma Irama di televise? Ternyata belum.Lagu Judi tetap membuat merah telimga penguasa yang saat itu melegalkan judi dengan jubah kupon undian olahraga berhadiah yang dinamakan Porkas.Lagu Judi secara lantang dan tegas menentang aksi pengelabuan judi berkedok undian tersebut. Alhasil lagu Judi hanya sempat 2 kali tayang di acara Kamera Ria tersebut dan di acara Album Minggu Kita. Selanjutnya Rhoma Irama dan Soneta baru muncul kembali di TVRI tahun 1990 membawakan lagu Haram versi 1990 dalam acara Irama Masa Kini. SEjak itulah Rhoma Irama dan Soneta bisa leluasa tampil di televisi bahkan sempat tampil secara ekslusif di RCTI (satu-satunya tv swasta saat itu) lewat acara yang dipersembahkan untuk menyambut Hari Raya Idul Adha.

Tahun 1990-an industri musik Indonesia kembali bergulir.Musik Pop dan Rock mulai menggurita.Dangdut mulai meredup. Slank, Dewa, GIGI adalah sedikit nama grup band yang tampil menyita perhatian penikmat musik Indonesia. Iwan Fals-pun yang semula adem ayem di tahun 80-an mulai beranjak naik dan mencapai puncak kesuksesan baik sebagai penyanyi solo maupun group bersama dengan Swami dan Kantata Takwa.

Kemajuan teknologi semakin mempermudah proses rekaman musik namun sisi negative dari kemajuan teknologi adalah semakin mudahnya membajak sebuah produk rekaman dengan biaya yang murah. CD, VCD dan DVD mulai merambah menggantikan kaset pita.Industri musik hancur lebur dihantam pembajakan.Dangdut mengalami hal yang paling parah.Murahnya harga kepingan cd dan vcd bajakan membuat masyarakat menengah-bawah, konsumen utama musik dangdut beralih membeli hasil bajakan tersebut.Kaset, CD dan VCD original tidak laku, menunpuk di gudang perusahaan rekaman.Selisih harga yang cukup jauh mejadi alas an utama masyarakat lebih memilih barang bajakan ketimbang yang asli.

Hal ini juga dialami oleh Rhoma Irama dan Soneta.Industri musik dan film yang semakin lesu juga membuat Rhoma Irama dan Soneta mengurangi aktifitas membuat album rekaman. Dalam kurun waktu tahun 90-an Rhoma Irama hanya mengeluarkan bebera album single yang hanya berisi satu lagu baru saja, sisanya diambil dari album-album lawas.

Tahun 2000 situasi belum banyak berubah.Industri rekaman dangdut masih mati suri.Musik Pop dan Rock perlahan mulai bangkit, Peterpan, Sheila on 7, Jamrud, Padi dan Dewa 19 membuktikan diri sebagai grup yang bisa mencapai penjualan jutaan copy dalam hitungan bulan. Tahun 2003 dangdut malah dihebohkan dengan munculnya erotisme goyangan dengan berbagai macam nama, ngebor, ngecor, gergaji, patah-patah dan nama-nama aneh lainnya. Inul Daratista, Anisa Bahar, Dewi Persik, Uut Permatasari, Nita Thalia adalah contoh nama-nama artis yang mengumbar erotisme di panggung dangdut. Kemurkaan Rhoma sebagai ketua PAMMI disalahartikan media sebagai kecemburuan dan rasa iri hati akan kesuksesan artis-artis tersebut ditengah lesunya industri musik dangdut. Rhoma tetap meradang, ia tetap dengan lantang mengecam meskipun media telah berhasil membentuk opini yang menempatkan sosok Rhoma Irama sebagai artis yang sedang mengalami post power syndrome karena tidak lagi laku. Bahkan dengan gamblangnya media mengungkit-ungkit masalah pribadi Rhoma Irama yang tidak ada hubunganya sama sekali dengan aktifitasnya dalam bermusik.

Pembentukan opini tersebut ternyata gagal total.Rhoma Irama dan Soneta tetap eksis, bahkan hingga saat ini. Disaat industri musik dikuasai oleh kaum kapitalis yang menjajah selera penengar dengan musik-musik metal (melayu total) yang seragam ala ST 12, D’Bagindas, The Potter, Kangen Band dan lain-lain, Rhoma Irama dan Soneta tetap istiqomah di jalur mereka, Dangdut Soneta. Tahun 2007 Rhoma Irama dan Soneta secara resmi digandeng oleh Falcon Record, sebuah label baru yang selanjutnya banyak membuat terobosan bagi album-album Soneta dan pada giliran berikutnya melahirkan generasi baru Soneta yaitu Sonet 2 Band dan Sonet Rock.

Kita bisa melihat bagaimana Rhoma Irama dan SONETA jauh meninggalkan artis-artis maupun group musik di era 70,80,90 bahkan 2000 yang mulai berguguran bahkan hilang sama sekali. Dangdut Soneta terbukti mampu menerobos lintas generasi.Lebih dari 4 windu lagu-lagu Soneta tetap akrab ditelinga masyarakat.Fans Soneta saat ini lebih banyak didominasi uisia muda yang lahir jauh setelah Soneta eksis. Mereka yang sebelumnya tidak banyak tahu lagu-lagu sonata sekarang menjadi gandrung bahkan membentuk berbagai komunitas fans club di berbagai daerah dengan berbagai macam nama semacam Sonia (sonata Mania), SFCI (Soneta Fans Club Indonesia) yang saat ini sudah berdiri di Surabaya, Yogya, Jember, Banyuwangi, Kalimantan, Indramayu, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, komnitas PESONA (penggemar Soneta) dan banyak komunitas lain yang sayangnya sampai saat ini belum terkoordinir dengan baik.

Dibawah ini kami mencoba menguraikan cuplikan perjalanan Soneta sejak tahun 1970 hingga 2000 berdasarkan data-data yang kami punya.

A.Tahun 1970-1979

Perjuangan seorang Rhoma Irama mengusung SONETA dimulai pada tanggal 11 Desember 1970.Dari bilangan kampung Bukit Duri, Jakarta Selatan semua ini bermula.Rhoma Irama (saat itu masih bernama Oma Irama) sejatinya adalah musisi yang dilahirkan dengan talenta sebagai penyanyi yang baik. Sejak diusia sekolah dasar ia sudah mulai memberanikan diri untuk tampil sebagai seorang penyanyi meskpipun sebatas didalam kelas. Di usia remaja, Oma sudah sering keluar masuk satu ke grup lainnya, mulai dari grup Band hingga group musik Melayu. Bersama Group Band ia pernah bergabung dengan Group Tornado, Gayhand, bahkan sempat merekam beberapa album Piringan Hitam bersama Band D’Galaxies dan Zainal Combo dan yang lebih hebat lagi, ia pernah menjadi juara pertama dalam Festival Penyanyi Pop tingkat Asia di Singapura bersama dengan penyanyi wanita Wiwiek Abidin. Dalam group melayu, ia malang melintang antara dalam group El Sitara bersama Ellya Khadam, Indraprasta, Sagita, Omega dan lain-lain hingga akhirnya berlabuh di OM Purnama pimpinan Awab Haris. Di OM Purnamalah Oma Irama mulai menunjukkan esksistensinya dibidang musik melayu hingga akhirnya bertemu dengan pasangan duet abadi yang dinobatkan sebagai Raja dan Ratu Dangdut hingga saat ini yaitu Elvy Sukaesih.Rhoma bukan orang yang kacang lupa dengan kulitnya. Hingga saat ini ia tanpa malu dan sungkan sering berkata dengan tegas, “ Kalau tidak ada Murad Haris dan Awab, tidak ada Rhoma Irama seperti sekarang ini. Kalau tidak ada OM Purnama, tidak ada SONETA yang besar seperti sekarang ini..”

Bersama dengan elvy Sukaesih, Oma Irama merekam banyak lagu-lagu yang sangat popular dan abadi hingga saat ini.“Mandul, Cincin Kawin, Cinta Abadi, Kuda Lumping, Jangan Dulu, Mawar Merah, Pelangi” adalah sedikit contoh dari puluhan karya emas yang telah dilahirkan Oma irama bersama SONETA dibawah payung Remao selaku produser rekaman terbesar saat itu.Kurun waktu tahun 1973-1975 Oma Irama dan SONETA boleh dikatakan menguasai industri dan panggung hiburan dangdut di Indonesia.Pertunjukan mereka selalu dipadati ribuan penonton, kaset-kaset mereka laris ribuan copy.

Tahun 1975, Oma Irama dan SONETA meninggalkan Remaco untuk bernaung dibawah Yukawi Record. Proses hengkangnya Oma Irama dari Remaco ke Yukawi tersebut pada akhirnya menyisakan kasus hukum yang berlanjut hingga akhir tahun 1979.

Bersama Yukawi ditahun 1975 Oma Irama dan SONETA merilis Album Begadang, Penasaran dan Rupiah.Semua album tersebut meledak luar biasa bahkan menganugerahkan Golden Record bagi Oma Irama dan Soneta Group.

Desember 1975, sebelum merilis album Soneta volume 3 (Rupiah), secara mengejutkan Oma Irama mengumumkan rencana kepergiannya untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah.Sebuah pengumuman yang sangat menyentak dunia musik.Seorang penyanyi dangdut berambut gondrong, yang selalu menyanyi begitu mesra dengan pasangan duetnya bahkan kerap bergelimang dengan minuman keras dan ganja tiba-tiba ingin naik haji?apa bisa? apa yang dicari?. Begitulah sederet pertanyaan dan cibiran yang kerap dilontarkan seniman-seniman musik terhadap rencana Oma irama tersebut.Memang tidak bisa dipungkiri bahwasanya dunia musik pada saat itu, termasuk dangdut, identik dengan minuman keras, perilaku sex bebas dan penyalahgunaan Narkotika.Tidak disebut musisi bila tidak mabuk, tidak pantas menyandang musisi bila tidak melakukan free sex, bukan artis bila tidak mengkonsumsi Narkotika.Begitupun dalam tubuh SONETA.Ini merupakan suatu penggalan sejarah yang diakui sendiri oleh Rhoma Irama dan personil Soneta lainnya.

Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, Oma irama merevolusi penampilanya.Ia membabat habis rambut gondrongnya dengan menyisakan sedikit jenggot pada dagunya. Pakaiannya pun tidak lagi kemeja ketat dan celana cutbrai tetapi dikenakannnya pakaian kemeja longgar dan kerap menyelipkan surban dibahunya.Bicaranyapun tidak lagi meledak-ledak tetapi lebih lembut dan pelan penuh kesabaran. Bahkan saat peristiwa pencurian master rekaman album Rupiah oleh salah seorang kerabat yang kemudian menjualnya kepada Remaco disikapinya dengan kepala dingin. Tak heran saat diluncurkanya album Rupiah oleh Yukawi, Remaco berani mengedarkan pula lagu-lagu dalam album tersebut dengan penyanyi lain yang merubah judul Rupiah menjadi Uang, Hello-hello menjadi Apa Kabar dan lagu Birahi diubah menjadi Nafsu.

Bagaimana dengan SONETA? Banyak orang meramalkan bahwa Oma Irama dan SONETA akan hancur karena pilihannya menunaikan ibadah haji. Predikat haji sangat ditabukan bagi seorang artis panggung.Oma Irama kemungkinan besar adalah artis musik pertama di Indonesia yang menunaikan ibadah haji. (wallahu alam..).
Ditahun 1975 pula Elvy Sukaesih keluar dari SONETA.Elvy tidak mau terikat dengan aturan yang dirasakan begitu ketat yang ditetapkan oleh Rhoma Irama bagi dirinya. Rhoma Irama menetapkan bahwa ia hanya boleh pentas dan rekaman bersama Soneta tidak dengan yang lain. Elvy yang merasa sudah lebih dulu menjadi artis panggung dan rekaman sebelum bergabung dengan Soneta terang saja menolak mentah-mentah aturan tersebut.Sekilas memang aturan itu tidak lazim bagi penyanyi yang berada pada posisi sejajar dengan pasangan duetnya namun ternyata aturan ketat inilah yang menjadi salah satu kunci kesuksesan Soneta. Dengan hanya focus pada satu team work maka totalitas lebih tercurah dan terjaga. Kebersamaan antar personil semakin terpelihara. Tak heran bila sampai saat ini personil Sonet sangat menjaga apa yang seharusnya di jaga dari Soneta itu sendiri. Banyak orang dan media yang mencoba mengorek-ngorek kedalam internal Soneta sampai ke urusan yang paling mendasar soal honor misalnya. Tapi tak ada satupun yang berhasil melakukan hal itu.Bagi mereka Soneta bukan hanya sebuah group biasa tetapi bagian dari nyawa mereka sendiri yang harus dijaga dan dipelihara.Sepahit apapun yang mereka rasakan cukup mereka yang menelan, tidak untuk diumbar kesembarang orang.

Untuk menggantikan Elvy Sukaesih, Oma Irama menggandeng Rita Sugiarto, seorang penyanyi wanita dari Semarang. Sejatinya selain Elvy Sukaesih, untuk kepentingan pertunjukan panggung Soneta juga mempunyai penyanyi wanita lain seperti Tati Hartati dan Lies Saodah. Namun mereka hanya sebatas untuk pendamping diatas panggung bukan dalam rekaman kaset.

Gebrakan yang dilakukan Oma Irama dan Soneta adalah merilis album volume ke 4 (Darah Muda).Oma Irama-pun merubah namanya menjadi Rhoma Irama, singkatan dari Raden Haji Oma Irama.“ Nama asli saya Raden Irama, tetapi sering dipanggil Oma, sehingga jadilah Oma Irama. Sedangkan pencantuman Rhoma Irama adalah untuk menghilangkan kesan primordialisme, sehingga Raden saya singkat dengan huruf R dan H itu potongan dari Haji, jadi Raden Haji Oma Irama, ditulis singkat Rhoma Irama. Kalau ada yang menulis H. Rhoma Irama, itu salah..”, demikian diungkapkan Rhoma Irama pada satu kesempatan dalam acara Milad 40 tahun Soneta tahun lalu.

Prediksi yang menyatakan Rhoma dan Soneta akan hancur pasca menunaikan ibadah haji ternyata salah besar. Rhoma Irama dan Soneta semakin melesat.Melesatnya Rhoma irama dan Soneta secara otomatis mengerek musik dangdut keatas singgasana musik sejajar dengan musik-musik lainnya. Untuk penampilan Soneta, Rhoma irama menetapkan standar yang sama dengan standar musik-musik lainnya baik pop maupun rock. Tata lampu, sound Sytem dan panggung ukuran besar harus disediakan untuk penampilan Soneta.Bila selama ini musisi dangdut hanya tampil ditempat-tempat terbatas tetapi untuk Soneta hal itu tidak berlaku lagi.Rhoma merubah penampilan musik dangdut menjadi lebih enerjik dan dinamis, tidak lagi berleha-leha dengan syair yang menina-bobokan pendengarnya. Rhoma Irama dan Soneta terus menghentak dengan album Volume 5 (Musik), volume 6 (135 juta) hingga volume 7 (Santai) yang melahirkan lagu hir Santai dengan gaya bermusik yang berbeda. Rhoma Irama menyebut lagu santai sebagai funky dangdut.

Kesuksesan didunia rekaman, membuat perusahaan film tergiur untuk menarik Rhoma Irama dan sonata kedalam layar lebar. Tahun 1977, Penasaran, film perdana Rhoma Irama beredar. Film ini laku keras hingga dlanjutkan dengan film Gitar Tua. Kesuksesan album dan film itu sayangnya tidak bisa dinikmati oleh personil Soneta yaitu Herman dan Kadir yang mengundurkan diri karena tidak bisa mematuhi aturan yang telah disepakati oleh semua untuk meninggalkan kebiasaan minum minuman keras.Herman dan Kadir keluar pada saat Soneta sedang tour show di Jawa Timur.Untuk menggantikan posisi keduanya Rhoma Irama meminang Chovif dan Pongky, personil grup Gavilas dari Banyuwagi.

Sukses dan keberhasilan terus diraih Rhoma Irama dan Soneta. Setiap tahun Soneta sedkitnya merilis 3 album volume dan 2 produksi film layar lebar. Untuk album kaset Soneta mengeluarkan album Volume 8 ( Hak Azasi), Volume 9 (Begadang 2) dan Volume 10 (Sahabat). Untuk film Rhoma irama menyelesaikan film Darah Muda, begadang, Berkelana I-II dan Raja Dangdut

B. Tahun 1980-1989

Tahun-tahun ini merupakan tahun terdahsyat bagi Soneta. Revolusi dangdut yang semakin mengeksiskan Soneta jauh meninggalkan musisi-musisi Indonesia saat itu baik Dangdut, Pop maupun Rock. Pada Volume 8 Rhoma Irama melengkapi dirinya dan Soneta dengan peralatan musik terbaru, perhatikan sound gitar Rhoma Irama yang sangat berbeda dengan sound pada album-album sebelumnya, begitupun raungan organ H.Riswan dengan organ Hammond dan Farfisa. Soneta mengawinkan sound hard rock Deep Purple dengan musik melayu Soneta dan berhasil ! . Hampir seluruh Album Soneta memperoleh penghargaan Golden Record (kalau sekarang platinum award dari masing-masing label).Lagu2 Soneta mewabah disetiap radio2 swasta, bahkan Soneta dengan lagu Haram terpilih mewakili Indonesia dalam Asean Pop Song Festival di Manila.Kesuksesan Soneta saat itu membuat merah muka pemerintah orde baru.Mengapa demikian? Dukungan Rhoma dan Soneta pada PPP pada pemilu 1977 dan 1982, suka tidak suka ataupun mau
diakui atau tidak telah memenangkan PPP untuk wilayah DKI Jakarta mengalahkan partai pemerintah yaitu GOLKAR. Saat itu Soneta kerap tampil dalam ajang kampanye PPP.Apalagi Rhoma tampil sebagai jurkam di TVRI tahun 1982 (sejak tahun 1977 Soneta sudah dilarang ditampilan di TVRI dengan alasan yang kurang jelas).Lagu Laa ilaha Ilallah dalam soundtrack film Raja Dangdut sempat mengundang polemik yang membawa Rhoma diundang ke Masjid Al Azhar untuk menghadap MUI mengenai lafaz Surah Al Ikhlas pada awal lagu tersebut.Alhamdulillah KH Syukri Gozali (Ketua MUI saat itu) menyatakan bahwa setelah dipelajari ternyata lagu ini tidak bermasalah dan beliau malah berpesan kepada Rhoma untuk terus menciptakan lagu2 bernafaskan Islam lebih banyak lagi.Sandungan bukan hanya pada lagu itu saja, tetapi Album Soundtrack Cinta Segi Tiga pun sempat bermasalah dikarenakan Rhoma telah mengucapkan hadits Nabi SAW secara terbalik pada intro lagu LIMA. Hal ini mengakibatkan Naviri selaku label harus menarik album yang sudah terlanjur beredar dan menggantinya dengan album yang telah direvisi pada kesalahan pengucapan tersebut.

Tahun 1980 merupakan gebrakan awal revolusi dalam musik dangdut.Rhoma Irama mengikrarkan Soneta sebagai The Sound of Moeslim dan voice of Islam.Sebuah langkah berani yang tentu saja menimbulkan banyak pro dan kontra, baik dari kalangan ulama maupun musisi melayu.Ini diawali dengan berangktnya semua personil Soneta memunaikan ibadah haji akhir tahun 1979 dan bertepatan tahun itu pula diluncurkan Soneta Girl dengan pimpinan Hj.Veronika. Sejak itu penampilan pakaian show Soneta tidak lagi seperti sebelumnya dengan celana ketat dan sepatu lars tetapi lebih kepada Muslim Look dengan baju longgar dan selendang atau syal. Rhoma dihujat telah memperjualbelikan agama, bahkan film Perjuangan dan Doa harus terlebih dahulu dipertontonkan untuk dikaji oleh MUI sebelum diedarkan. Dengan polemik yang panjang akhirnya semua masalah tersebut dapat terselesaikan dengan baik. KH.Idham Chalid dari NU mengatakan apa yang dibawakan Rhoma sah2 saja, KH Syafii Hadzami lebih halus dengan mengatakan itu tergantung dari niat pribadi masing-masing. Kejadian2 mengenai pro kontra ulama dan termasuk kasus lagu Laa ilaha illallah serta hadits terbalik dalam lagu LIMA dijawab oleh Rhoma dalam salah satu scene film Perjuangan dan Doa. Boleh dikatakan Film Perjuangan dan Doa merupakan pledoi Rhoma Irama atas kasus2 tersebut (adegan saat diskusi di sekolah Laila).

Dan para musisi melayu beranggapan bahwa Soneta telah memperkosa musik melayu sebagai ibu kandung musik dangdut, apalagi Rhoma Irama pada tahun2 tersebut senpat mengeluarkan album POP dengan judul Remaja. Namun perkembangan selanjutnya para musisi melayu sendiri akhirnya berbondong-bondong berkiblat mengikuti jejak musik Soneta. Atas keberhasila Soneta, BIll H Frederick, seorang Sosiolog dan Dosen OHIO University, Amerika Serkat membuat tesis tentang Rhoma dengan judul : Rhoma Irama and The Dangdut Style.
Tahun 1982 merupakan tahu terakhir Rita Sugiarto bergabung dengan Soneta.Ia mengundurkan diri dan membentuk Group Jackta dengan Jacky Zimah, suaminya dan melontarkan hits Jacky. Pengalaman yang diraihnya selama bergabung dengan Soneta membawa banyak hikmah bagi Rita.Ia tidak menyia-nyiakan ilmu yang diperolehnya dari Soneta dan Rhoma Irama. Ini yang membuatnya tetap eksis hinga saat ini.
Atas pengunduran diri ini, Rhoma Irama menjadi penyanyi solo tanpa pendamping. Untuk Album 11 (Indonesia) Soneta menggamit Nandhani penyanyi dari India untuk membawakan duet Sawan Kam Hina dan Main Tulsi Tere Anganki yang dirubah syairnya kedalam bahasa Indonesia menjadi lagu Jangan lagi dan Takkan Lagi. Dan untuk pertamakalinya dalam rekaman kaset Soneta, album ini dibuka dengan sapaan Rhoma Irama kepada para pengemarnya.
Volume 11 semakin mengentalkan rasa kritis Rhoma terhadap keadaan bangsa saat itu, bahkan sampai saat ini.KKN yang begitu merata disemua bagian birokrasi pemerintah begitu tergambar dengan gamblang dalam lagu Indonesia.
Untuk pertamakalinya pada volume 12 (setetes air hina) album Soneta tidak didampingi vokalis Wanita.Album ini berisi 4 lagu yang sangat sarat dengan dakwah tetapi dengan iringan musik yang sangat enerjik. Perhatikan ketukan gendang H.Hafif dalam Album tersebut(terutama lagu setetes air hina dan Al Quran dan Koran), sampai saat ini belum ada yang menyamainya. Dan untuk petamakalinya pula album ini diberi sub judul Renungan dalam Nada. Dalam album ini ada beberapa bagian bass yang dimainkah oleh Lucy Anggoman, bassist Soneta Girl, karena kebetulan H.Popong sedang mengalami cedera.

Kesuksesan Soneta tidak tertandingi oleh grup musik manapun. Soneta merajai industri hiburan (musik dan film) walaupun tidak diperkenankan tampil di TVRI dan dipersulit ijin show dimana-mana. Akibat dari kemasyuran Rhoma Irama dan Soneta bermunculanlah plagiat2. Mara Karma dengan Kharismanya (Resesi), Nano Romanza dengan Rolista (Halilintar), Uci Marshall dengan Sanita (Dunia ; dulu didirikan oleh Herman dan Kadir ex Soneta), Iin Batara dan masih banyak lagi plagiat2 yang tampil mencuri kesempatan dikala Rhoma dan Soneta jarang tampil. Namun yang namanya plagiat pasti tidak akan bertahan lama. Plagiat2 tersebut hanya mampu bertahan satu dua tahun saja.Rhoma dan Soneta adalah emas murni bukan sepuhan.Lucu juga melihat banyak penyanyi dangdut berjenggot dan berjubah meniru Rhoma dan Soneta, namun tidak diimbangi dengan kwalitas lagu dan aransemen musik yang baik.Satu2nya group dangdut yang juga cukup sukses saat itu adalah Tarantula dengan Camelia Malik dan Reynold
Pangabean.Ini bisa terjadi karena Tarantula membuat trend dangdut tersendiri tidak mencontek Soneta (Kadir dan Herman ex Soneta juga sempat bergabung disini).
Dalam industri film Rhoma Iramapun sukses besar. Film Sebuah pengorbanan berhasil memperoleh penghargaan sebagai film terlaris bersama-sama dengan film Warkop DKI (sampai saat ini film lawas Rhoma dan Warkop DKI masih kerap diputar di TV Swasta).
Dibidang musik Soneta memperkaya orkestrasi musiknya dengan memasukkan alat musik tiup (Trompet) untuk mempertebal dan memperlebar wilayah suara.Boleh dikatakan ini Revolusi ke II dibidang musik dangdut.Dangdut Soneta semakin membuat perbedaan dengan dangdut2 lainnya. Mansyur S, Meggy Z, A.Rafiq masih asyik dengan buaian musik India, tetapi Soneta menerjang jauh merombak musik dan memodernisasi instrumen2nya.

Tahun 1984 untuk pertamakalinya Noer Halimah bergabung bersama Soneta sebagai vokal pendamping. Soundrack film Satria Bergitar adalah debut awalnya dengan satu lagu Pesona. Film Satria Bergitar sendiri merupakan film termahal saat itu dengan biaya sekitar 750 juta padahal ukuran standar film2 nasional berkisar antara 150-200 juta saja. Ini juga merupakan film Indonesia pertama yang menggunakan tata suara Dolby Stereo dari Australia.

Album Emansipasi Wanita (Volume13) adalah album perdana yang diproduksi oleh Soneta Record milik Rhoma pribadi setelah mengakuisisi Studio Yukawi. Album ini bagi saya adalah album terbaik Soneta.Unsur musiknya kuat, lirik2nya pun sarat makna. Emansipasi Wanita, Modern, Nasib Bunga, Lagi-lagi Cinta dan Nilai Sehat adalah lagu-lagu yang dikumandangkan dalam album tersebut.

Tahun 1984, tepatnya tangal 12 SEptember terjadi peristiwa Priok Berdarah. Sebuah peristiwa yang terjadi sebagai eskalasi puncak dari pertentangan pemerintah dengan kalangan Islam.Pemerintah menetapkan asas tunggal, sebagian kalangan Islam menolak keras.Apa hubungannya dengan Rhoma dan Soneta? Saat itu Rhoma boleh dikatakan berada dalam kalangan yang menolak penerapan asas tunggal, apalagi Rhoma berkawan karib dengan Alm. Amir Biki, tokoh peristiwa tersebut. Dan konon Rhoma sempat ikut diperiksa oleh LAKSUSDA Jaya. Namun akhirnya Rhoma mendapat surat clearance dari LAKSUSDA Jaya I(kala itu Pangdamnya Jendral Try Sutrisno). Dan sebagai bukti bersihnya Rhoma, Soneta tampil menghibur dalam Ulang Tahun KODAM Jaya.Dengan seragam loreng Soneta menggebrak Lapangan Makodam di Cililitan.

Saat shooting film Pengabdianpun sempat terganggu dengan ditemukannya bubuk mesiu disalah satu diesel yang digunakan untuk keperluan shooting tersebut.

Diawal-awal tahun 1985, publik dikagetkan dengan berita perceraian Rhoma dengan Veronica dan sekaligus pernikahan Rhoma dengan Ricca Rachim.Sontak terjadi perdebatan pandangan para penggenar antara pro dan kontra.Teman-teman sayapun banyak yang emosi dan melampiaskannya dengan membakar semua koleksi album2 Sonetanya (tapi sekarang pada nyesel tuh).Untung saya tidak terlalu emosional dengan hal tersebut, koleksi2 Soneta saya utuh sampai sekarang.Mengapa demikian?Karena saya menyukai dan mengapresiasi musik Soneta tidak melihat Rhoma Irama sebagai pribadi.Saya lebih mengagumi kemampuan beliau dan Soneta dalam membidani sebuah musik dangdut yang dulunya kampungan menjadi sebuah musik yang sangat dahsyat dan membawa pencerahan dalam industri musik Indonesia bahkan boleh dikatakan menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia.

Polemik tersebut tidaklah berlangsung lama.Soneta tetap tegar mengukuhkan eksistensinya dibidang hiburan musik.Bahkan Majalah Asiaweek Edisi ke16, Agustus 1985 menobatkan Rhoma Irama dan Soneta sebagai SOuth Easth Asia Superstar (Suoerstar Asia Tenggara).Dengan memuat liputan pertunjukan Soneta di Kuala Lumpur.(Rhoma dan Soneta ke Kuala Lumpur dalam rangkaian Pesta Kebudayaan Malaysia).

Salah satu pertunjukan kolosal yang memecahkan rekor penonton terbanyak adalah pertunjukan tunggal Soneta di Parkir Timur Senayan tanggal 18 Agustus 1985.Lebih dari 100.000 penonton menghadiri pertunjukan tersebut. Ini hampir bisa disamai dengan rekor pertunjukan Rock Merah Putih ditempat yang sama namun dengan menampilkan lebih dari 40 group musik. (Bandingkan dengan Soneta yang hanya tampil tungal).Juga pertunjukan Soneta di Tanjungkarang (Lampung) selama 3 malam berturut-turut dan setiap malamnya dikunjungi tidak kurang dari 40.000 penonton (harian KOMPAS).

Tahun 1988 Soneta kembali diperkenankan tampil di TVRI dengan hit Judi.

C. Tahun 1990-2000

Tahun 1990 Soneta seakan mendapat lampu hijau untuk tampil kembali di TVRI. Setelah tampil mempromosikan lagu Judi tahun 1988, Rhoma Irama dan Soneta tampil kembali mempromosikan lagu Haram versi 1990.Ditahun yang Industri musik mulai mengalami penurunan produksi hal ini juga berlaku pada industri musik dangdut.Rhoma irama dan Soneta hanya mengeluarkan beberapa album single yang berisi satu lagu baru saja dan sisanya diambil dari lagu-lagu dari album lama. “RANA DUKA, BACA, MIRASANTIKA, KEHILANGAN TONGKAT, STRESS dan REFORMASI” adalah judul-judul album single SONETA selain album khusus bersama penyanyi India, Latta Mageshkar lewat 4 album masing-masing “ PURNAMA, GULALI, SIFANA dan PUJA” dan album rekaman pertunjukan Soneta Group di Stadion Negara Kualalumpur Malaysia tahun 1992.

Untuk film Rhoma irama menyelesaikan film JAKA SWARA yang semula akan diberi judul JAKA MANDOLIN, NADA dan DAKWAH dan TABIR BIRU.

D. Tahun 2001-2010

Rhoma Irama dan Soneta membuka awal tahun 2000 dengan merilis album EUFORIA yang mengusung satu lagu baru Euforia dan 4 lagu recycle Narkoba, Lain Kepala lain hati, Narkoba, dan Ingkar. Penampilan Rhoma Irama ditahun ini berubah dengan badan yng tidak lagi tambun.Video klip Euforia-pun dibuat lebih elegan dengan balutan busana personil tidak lagi bersyal dan berbaju longgar tetapi menggantinya dengan busan hitam-ketat yang kabarnya sempat mendapat protes karena Soneta Femina tampil dengan pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh. Setahun kemudian dirilis album recycle Syahdu dengan susuna lagu Syahdu, Kerudung Putih, Masya allah, Ya le le, dan Patah Hati. Untuk promosi dibuat video klip lagu syahdu.Lagu Syahdu yang aslinya duet dengan Rita Sugiarto di Album Soundtrack Film Berkelana I tahun 1978, di album recycle tersebut dirombak habis baik aransemen maupun lirik dan syair menjadi lagu solo Rhoma Irama.

Dua tahun kemudian Soneta merilis kembali album recycle dengan memasang judul Asmara yang terdiri dari lagu lama yang diaransemen ulang yaitu Asmara, Air Mata Darah, Malam Minggu dan Surat Terakhir. Lagu Asmara adalah ganti baju dari lagu “dangdut” yang diciptakan tahun 73-74 dan lebih dikenal dengan judul “terajana”.

Tahun 2003 Rhoma Irama dan SONETA mendapat hantaman keras dari media. Kecaman Rhoma terhadap erotisme dangdut yang diusung oleh Inul Daratista, Anisa Bahar, uut Permatasari, Nita Thalia dan Trio Macan menjadikannya sebagai sosok artis senior yang iri dan dengki atas kesuksesan artis-artis tersebut. Mereka berkomplot untuk mendiskreditkan Rhoma Irama dan Soneta termasuk dengan mengungkapkan perkawinan-perkawinan Rhoma Irama dengan Angel Lelga, Ayu Soraya dan Gita.
Rhoma Irama dan SONETA sudah tamat!, begitu banyak orang berkata. Tetapi ternyata mereka salah besar.Pertunjukan perdana SONETA pasca kejadian Inul dan Angel Lelga di Parkir Timur SEnayan Jakarta tetap dipenuhi puluhan ribu penonton.Rhoma Irama dan Soneta yang tampil untuk acara Kawasan Dangdut Lativi tampil lepas tanpa beban sedikitpun.

Ternyata kasus-kasus yang mendera Rhoma irama tersebut sedikitpun tidak mempengaruhi eksistensi Soneta Group. Tahun 2007 Rhoma Irama dan Soneta resmi dikontrak oleh sebuah label rekaman baru Falcon Record milik pengusaha India HB Naveen. Sebagai album pertama diluncurkan album duet dengan TP Noor, Istri dari Sultan Kedah Malaysia dengan lagu Jana jana dan Syahu yang keduanya dirilis dalam bahasa India. Album ini lebih dulu diedarkan di Malaysia ketimbang di Indonesia.Pembuatan video klip lagu dalam album ini dibuat secara khusus di daerah Rajashtan, wilayah bagian utara di India. Video klip berbiaya milyaran rupiah ini ditangani langsung oleh sineas-sineas Bollywood yang biasa menangani artis top India semacam Shah Rukh Khan, Salman khan. Di Malaysia album ini diedarkan sebagai bagian dari kegiatan amal penngumpulan dana untuk korban bencana alam di Malaysia.

Tahun 2009 Rhoma Irama memproklamasikan revolusi kedua musik Soneta dengan memperkenalkan Ridho Rhoma dan Sonet2 Band yang mengusung warna baru dalam industri musik dangdut. Tidak tanggung-tanggung untuk promosi album ini Falcon menggelontorkan dana milyaran rupiah untuk membuat tiga video klip masing-masing lagu Menunggu, Dawai Asmara dan Kerinduan. Revolusi kedua ini sukses besar.Ridho Rhoma da Sonet2 Band melesat memecah kebuntuan industri musik dangdut.Lagu Menunggu masuk dalam 10 besar lagu yang terbanyak diunduh melalui Ringback Tone (RBT). Bahkan fansnya-pun tanpa segan-segan memproklamasikan diri sebagai SOLVERS (Sonet 2 Lovers)

Tahun 2010, Rhoma Irama melepas album single Azza. Untuk album ini-pun Falcon tidak segan-segan membuatkan video klip langsung di Negara Mesir yang ditangani langsung oleh tangan-tangan kreatif dari Mesir, Malaysia dan ndonesia. Kemasan sampul kaset da CD pun dibuat dengan sangat eksklusif, berbeda dengan kemasan sampul-sampul album dangdut umumnya yang terkadang hanya asal menonjolkan wajah sang artis.

Selain mengorbitkan Ridho Rhoma dan Sonet 2 Band, Rhoma Irama dan Falcon juga mengorbitkan putra Rhoma yang lain yaitu Vicky Zulfikar dengan groupnya SONETROCK. Bila Sonet 2 Band yang diarsiteki oleh Ricky Asmara, putra dari H. Riswan personil Soneta, lebih mengekploitasi lagu-lagu lama Soneta dalam balutan pop kreatif, maka Sonetrock yang diarsiteki oleh Iwan Xaverius, salah satu Bassist Rock terbaik di Indonesia, lebih mengekploitasi lagu-lagu lama Soneta dengan alunan musik cadas. Lagu-lagu semacam Bujangan, Hak asasi, Buta, Ingkar, Nafsu serakah dibongkar habis dengan sajian ala Metallica, Avenging Sevenfold, Korn dll.Suaru sajian yang cukup menarik untuk disimak. Dengan adanya dua kubu ini semakin menguatkan posisi musik Soneta sebagai lahan subur yang bisa digarap mengikuti irama apapun yang mampu menembus batasan usia.

Kesuksesan Ridho Rhoma dan Sonet 2 Band dilanjutkan oleh Falcon dengan membuat film pertama dengan judul DAWAI 2 ASMARA. Film yang dibintangi oleh Rhoma Irama, Ridho Rhoma, Delon Idol dan Cathy Sharon ini-pun meraih sukses dalam pemasaran hingga dilanjutkan dengan film ke- 2 yang untuk pertamakalinya disutradarai langsung oleh Rhoma Irama dengan judul “SAJADAH KA’BAH”.

Khusus untuk film tersebut Rhoma Irama dan Soneta telah merekam 3 buah lagu baru masing-masing “UKHUWAH, HARUSKAH BERAKHIR? dan SOHIBAH yang merupakan versi India dari lagu Saiba yang termuat dalam film Dil Hai Tumhara.

Sampai kapankah Rhoma Irama dan SONETA terus berkibar? Hanya usia yang bisa menghentikan mereka. Hujatan, fitnahan, cercaan tenyata tidak mampu menahan laju mereka untuk mengokohkan jatidirinya di dunia musik Indonesia.Penyanyi dan group musik datang dan gugur satu persatu, tetapi Rhoma Irama dan SONETA tetap kukuh disinggasana Kerajaan Dangdut.


0 comments


Leave a reply